''Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. Datanglah kau padanya barang dua-tiga kali lagi, nanti kau akan dapat lebih mengetahui benar-tidaknya pendapat umum itu.''
Di atas adalah cuplikan dari obrolan Minke dan Jean Marais dalam Bumi Manusia karya eyang Pramoedya Ananta Toer. Saya memang lagi gandrung dengan novelnya. Kalau saya dianggap telat, memang telat pakai sangat. Hanya saja tak jadi soal besar, memang telat apa yang jadi soal besar? t
Kalimatnya memang tak puitis apalagi romantis yang bisa menderu-derukan dan menggetarkan hati yang sedang di mabuk asmara. Tapi di dalamnya syarat makna.
Sudahkah kita adil? bahkan sejak dalam pikiran? Saya tergetar memaknainya. Hati saya terkesiap, kaget karena sengatan magis kebenarannya. Saya terpelajar karena saya bersekolah. Saya terdidik dan bahkan sudah makan bangku sekolahan. Dosen saya tak kurang dari profesor, minimalnya adalah master dibidangnya. Namun hinanya saya lantaran masih suka bertindak tidak adil, bahkan sejak dalam pikiran saya sendiri. Saya sangat suka men-judge orang lain. Tanpa melihat latar belakangnya. Tanpa tahu sudut pandangnya. Tanpa tahu apapun. Masih berkabut dan abu-abu tapi dengan lantang saya menghakimi.Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan
Toh saya tidak sendirian, masih banyak di luar sana yang bodoh seperti saya. Mau tahu? coba tengok kolom komentar di sembarang artikel berita di media online.
Sedih rasanya, kenapa generasi negeri seperti ini? Lebih nelongso maneh karena 3 hari lagi malam minggu
**Note : Ceritanya sedang tak bergairah memberikan judul
15 Maret 2017
Arema-nita, Tary Wilujeng
Writing Challenge "7 Hari Tantangan Menulis" #Hari5 #KampusFiksi #BasabasiStore
0 komentar:
Post a Comment