Saturday, 11 March 2017

CiMon, Cinta Monyet Cinta yang Bergelendotan

Diposkan oleh corat coret di 21:20:00 1 komentar
 Aku mematut-matut bajuku dicermin . Rapi . Aku endus lengan seragamku . ehmm wangi . Tanpa banyak cingcong lagi segera aku berpamitan pada ibuku. Senyum sumringah terpampang di wajah, hari ini sepertinya berbeda. Hanya perasaanku atau memang berbeda entahlah. Angin sepoi bertiup dan matahari masih malu-malu untuk bangun, guratan merahnya masih melongok-longok di ufuk timur. Tapi aku sudah disini di dalam angkot. Rapi dan Wangi. Padahal ini masih jam 5.30 tapi kakiku ini nggak bisa diajak santai. Ingin cepat menginjak gerbang sekolah. Angkot berjalan pelan, mencari penumpang. Bapak supir suka menginjak kopling dan rem bersamaan setiap mendekati gang yang dilewati, matanya mencari-cari mungkin ada penumpang yang hendak naik. Aku mengawasi gerak-geriknya dari tempat dudukku tepat dibelakangnya. Hampir-hampir aku tak memperdulikannya setelah itu karena disini aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Hatiku berdetak seperti dentuman electronic dance music. Begitu upbeat cepat dan bersemangat jika aku mengingat peristiwa kemarin. Saat mataku beradu dalam satu pandang dengan Yuda, cowok manis berlengsung pipit, berambut semi mohawk yang hobi main basket. Rasa-rasanya waktu berjalan lambat dan aku terpaku beku

           Mungkin begitu jadinya jika cinta monyet ala saya dinarasikan. Ahhh serasa membaca teenlit bukan?? Tolong jangan bilang bukan, tolong sedikit bahagiakan saya yang jomblo sendiri di malam minggu ini. 

          Sebutannya cinta monyet , cinta ala monyet. Hewan primata yang hobi gelendotan dan lompat-lompat. Laksana itupun cintanya. Bergelendotan berayun lalu melompat. Melompat lagi dan lagi. Dari Yuda melompat ke Awin, Yoska, Edu, Dimas, Bara, terakhir Dika. Semua itu bukan senarai mantan hanya nama-nama yang ketiban cinta monyet saya. 

           Begitulah cinta monyet, renjana yang berdenyar-denyar hanya karena melihat saja. Baru melihat belum memeluk memiliki.

11 Maret 2017
7 Hari Tantangan Menulis @kampusfiksi @basabasi_store #Hari1 

Wednesday, 8 March 2017

Dibalik Kegagalan dalam Blogtour Giveaway

Diposkan oleh corat coret di 10:28:00 0 komentar
 rejeki Allah selalu turun ke orang yang tepat di saat yang tepat

           Pernah ikut Blogtour Giveaway? rangkaian giveaway yang dibagikan oleh penerbit lewat blognya blogger yang terpilih. Hadiahnya sih biasanya berupa buku yang sedang direview. Pernah menang? selamat deh ya. Dan poor me!!! Saya nggak pernah menang. Sebel? pastilah. 

           Pernah ikut writting challenge? nulis sesuatu berdasarkan tema yang ditentukan selama beberapa hari yang diadain oleh penerbit atau blogger yang bekerja sama dengan penerbit. Pernah menang? selamat deh ya. Lagi-lagi poor me!!! Dinominasikan saja nggak *eeeehhhh emang ada nominasinya ya? anggap saja ada . Maksa.

           Yang menjadi pertanyaan mendasar, kenapa saya nggak pernah menang? beribu jawaban berjumpalitan di angan. Bisa jadi karena tulisan saya amburadul memang, mungkin juga jurinya yang keblinger atau ngantuk kurang mendapat kesan dengan tulisan saya. Mungkin juga karena tulisan peserta lain lebih amazing penuh dengan diksi yang indah. Bisa jadi faktor lucky, kalau yang ini memang nggak usah ditanyakan lagi. Saya memang nggak pernah beruntung jika sistemnya berupa undian. Dan faktor ini selalu saya mahfumi. Namun kali ini saya tergelitik karena keingintahuan yang mencekik, tulisannya seperti apa sih yang menang itu??? Maka setelah saya menyapa Sang Pencipta subuh tadi, saya mencoba mau membaca tulisan si pemenang. Ada dua pemenang, hawa semua. Sebutlah mereka Mawar dan Melati. Saya memulai merayapi coretan pena pencetan keyboard Mawar. Ceritanya biasa dan pendek namun karena mungkin hobinya membaca sehingga kekayaan vocabularynya melimpah ruah bak kawanan cakalang dilautan. Diksi-diksinya memang aduhai sehingga saya pun terpesona. Ahhhh dari sini saya mengerti kenapa saya kalah. Pantas. Dan itu memang ganjaran bagi diri yang miskin vocabulary ini. Itu baru pemenang satu sudah bikin saya deg-degan dan rendah diri. Saya membayangkan pemenang satunya lagi yang tak lain adalah Melati bakal lebih amazing tulisannya. Setelah dirayapi setiap teksnya. Keliru. Ternyata saya keliru kali ini. Tulisan Melati nampak biasa. Terlalu sederhana jika nggak mau dibilang biasa. Nggak ada kesan didalamnya. Lantas apa yang membuatnya menang? lucky. Yup Dewi Fortuna sedang mengiringi langkahnya. Dan rejeki Allah selalu dibagikan kepada hambanya yang tepat. Selalu tepat. Dari ceritanya saya tahu bahwa dia bukan dari orang berada, sedang kesulitan. Dia lebih membutuhkan giveaway yang imbalannya berupa buku ini untuk dirinya. Supaya bisa menjadi pelecut atau bahkan modal mencapai cita-citanya. Dia sedang dalam mencari pekerjaan artinya dalam dompetnya nggak ada gambar Soekarno-Hatta mungkin bahkan I Gusti Ngurah Rai berlebih untuk membeli buku. Pantaslah ia mendapatkan rejeki kemenangan ini dari Allah. Allah Maha Tahu. 

           Moral dari blogtour dan giveaway yang nggak pernah saya menangkan adalah Allah tahu kalau saya masih mampu membeli buku. Jadi kalau saya nggak menang lagi di lain waktu mungkin karena ada orang disana yang lebih membutuhkan daripada saya. Bukan karena tulisan saya yang sederhana amburadul.

Dalam suatu kesedihan ada suatu kebahagian orang lain

           Kali ini saya yang sedih tapi Melati bisa bahagia karena dapat buku gratis. T.T

Sunday, 5 March 2017

Cita-Cita Sederhana

Diposkan oleh corat coret di 20:29:00 0 komentar

Hidup akan hidup jika masih bertujuan
Jika hidup sudah hilang haluan
Maka sederhanakan dengan kembali pada
tujuan hakiki manusia diciptakan

           Cita-cita, seingat saya dulu saya ingin menjadi power rangers. Power rangers pink. Aaahh namanya juga anak-anak, ngusap ingus saja belum bisa hahahaha. Bertambah besar bertambah mengerti bahwa yang namanya power rangers itu hanya fiktif belaka. Maka bergantilah cita-cita, ingin menjadi penyiar radio. Kian hari kian buram saja cita-cita seiring berjalannya waktu dan seiring garis-garis takdir yang menggurat. Baiklah sampai saat saya menulis ini, saya sudah berkompromi dengan nasib. Bahwa yang saya punya sekarang dengan peralatan skill yang saya sandang dan pemahaman pikiran yang mendalam maka saya bercita-cita menjadi diri saya sendiri. Saya adalah seorang perempuan dimana pada hakikatnya wanita diciptakan untuk menemani lelaki yang menjadi suami nantinya. Maka saya bercita-cita menjadi teman yang baik bagi suami nanti. Jangan meremehkan cita-cita sederhana nan mulia ini. Ini tugas yang berat yang diemban seorang hawa sedari ia diciptakan. Sebagai teman hidup bagi suami, wanita harus lebih cerdas dan bijaksana dan ekstra sabar level maksimal daripada suami itu sendiri.
           Cita-cita saya yang terlalu biasa dan amat biasa dan berkesan nggak berkelas ini membuat saya dari sekarang belajar meraihnya. Mulai dari banyak membaca buku, buku apa saja saya baca. Buku adalah gudang ilmu dari sana segala macam ilmu bisa ditimba. Saya harus memiliki banyak pengetahuan karena sebagai teman suami, nantinya saya adalah guru privat bagi anak-anak saya. Yang mana sumber ilmu terdekat bagi anak adalah ibunya. Wawasan yang saya dapat bisa nantinya saya pakai sebagai bahan sharing dengan anak maupun suami.
           Hal lain lagi adalah saya belajar memasak, yaaah saya mulai praktek bikin masakan dan kue rumahan. Sebagai teman hidup yang baik, saya juga harus lihai memanjakan perut. Bisa memasak yang nyata-nyata adalah ilmu katon juga harus diimbangi dengan pengetahuan nilai gizi maka peran membaca buku masih tetap diperlukan juga. Ini penting supaya kesehatan suami dan anak terperhatikan.
           Teman hidup yang baik juga harus ahli dalam pekerjaan receh seperti memasang kancing yang lepas dan menjahit celana yang sobek, saya yang asing dengan benang dan jarum harus mulai berkenalan dengan mereka beserta dengan pola tusuk jahitan. Saya sudah memulainya dengan mengikuti tutorial dari youtube dan hasil tanya pada ibu. Dari sini juga pada akhirnya saya bisa DIY bros dari pita dan flanel.
           Teman hidup yang baik harus bisa membuat suami bangga dan nyaman. Salah satunya adalah tetap terlihat cantik & sehat. Maka sedari sekarang saya belajar memilih dan memilah makanan. Kurang-kurangin junk food dan minuman makanan manis serta lebih memilih sayur, buah serta protein dan mengurangi karbohidrat. Ditambah rajin work.
           Cita-cita saya sangatlah sederhana namun untuk mencapainya sungguh harus benar-benar belajar. Itu barulah yang dasar yang lain-lain belum sempat belajar lagi masang tabung LPG, belajar bercocok tanam sederhana seperti nanam cabe, seledri, empon-empon (kunyit, jahe, kencur dkk), dan belajar ekstra sabar dan anti mengeluh..................

#KF3DAYS #WritingChallenge
#Day3
@kampusfiksi
@ikaVihara

Saturday, 4 March 2017

Jika Waktu Kembali Lagi

Diposkan oleh corat coret di 21:07:00 0 komentar

Waktu tak akan berputar ulang
dia akan terus berjalan
tak akan menunggu
tak akan pula terkejar

           Jika ada mesin waktu seperti milik Doraemon. Saya rasa hanya satu hal yang ingin saya lakukan. Hal itu tidak akan merubah suatu keadaan karena menilik hakikatnya jika suatu kejadian bisa dirubah di masa lalu maka berubahlah pula masa depan. Aaah saya tak ingin menjadi manusia kuwalat merubah takdir. Saya sudah banyak dosa, tak ingin menumpuk lagi. Bisa-bisa kejadian Kera Sakti yang dikurung di gunung dan harus menunggu seorang biksu untuk membebaskan menimpa saya. Saya tak mau semerana itu sungguh.
           Kemungkinan terbesar jika ada keajaiban mesin waktu yang bisa membawa saya ke dalam masa lampau, saya hanya ingin menjadi anak perempuan terbaik dan termanis untuk seorang lelaki baik, yang dalam garis takdir saya dia adalah ayah. Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu saya bersamanya jika saya tahu sekarang bahwa takdir kami hanya sebentar. Hanya sekedip mata. Dalam kebersamaan sekelebat bayangan itu saya ingin selalu memijitnya ketika ia lelah pulang bekerja. Tidak membebaninya dengan meminta sesuatu yang Ia tak memiliki kesanggupan memberikannya. Selalu mempersembahkan nilai akademik yang bakal membuatnya berdecak kagum sambil berbangga diri sembari mengatakan "siapa dulu bapaknya". Sungguh pasti ia akan menilai bahwa saya anak manis. Tak akan saya bantah apapun yang keluar dari bibirnya, pasti ini akan menyenangkannya dan menganggap saya anak patuh. Walaupun dinding dingin dirumah juga tahu, ia akan tetap menganggap saya anak yang manis dan patuh meski selalu saja membantah. Dari mulut ke mulut saya mendengar itu ketika ayah sudah pergi kedalam rengkuhan Illahi.
           Kematian adalah takdir pasti. Saya tidak mungkin menangguhkan sebuah kematian. Sehingga apa yang saya inginkan hanyalah memberinya sebuah kenangan bahwa Ia adalah seorang ayah yang dalam masa hidupnya pernah memiliki anak perempuan terbaik dan termanis.

Note : jangan pernah sekalipun kamu mengecewakan orang tua apalagi urusannya hanya receh, sekali mereka tiada sungguh hanya penyesalan menggunung timbul tenggelam dalam hati.

#KF3DAYS
#Day2
#writing challenge
@kampusfiksi
@ikaVihara

Friday, 3 March 2017

Pernah menjadi Sahabat

Diposkan oleh corat coret di 11:52:00 1 komentar
Manusia adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri
mereka memerlukan teman, teman untuk berbagi
walaupun bukan sahabat, setidaknya ada sekutu 

           Sahabat dan teman mana yang lebih intim? saya rasa sahabat lebih intim karena sahabat bisa menjadi sinonim dari teman dekat. Menurut cerita orang lain, sahabat adalah teman terdekat yang menemani lika-liku kehidupan kita baik suka maupun duka. Dan menurut paham saya, jarang ada orang yang memiliki sahabat sejak dari kecil sampai dewasa masih menjalin komunikasi intens seperti dulu. Kalaupun ada sungguhlah sangat beruntung orang semacam itu. 
           Saya pribadi pernah memiliki teman sewaktu kecil, panggil saja Venus. Venus menemani perjalanan saya dari semenjak saya menginjakkan kaki di halaman pelataran Sekolah Dasar hingga terus tumbuh bersama sampai kelas enam. Dia memang anak tetangga tapi tetangga jauh, rumah kami sudah beda RT dan RW dipisahkan dengan jalan raya besar, dia di utara jalan sedangkan saya di selatan jalan. Saya bukan termasuk anak pemberani kala itu, sehingga setiap pagi Venus selalu menghampiri saya ketika hendak berangkat sekolah. Kami bersama-sama berjalan kaki. Begitupun ketika bubaran sekolah, dia juga selalu mengawal saya sampai di rumah baru kemudian dia pulang sendirian menuju rumahnya. Selalu begitu sampai tahun terakhir di SD. Pertemanan kami hanya sebatas sekutu pulang dan pergi. Kami tidak pernah bermain bersama ketika sekolah selesai. Alasannya karena jalan raya besar itu memisahkan rumah kami. Orang tua kami tidak mengijinkan anaknya bermain menyebrangi jalan raya. Dia memiliki teman bermain sendiri di lingkungan rumahnya begitupun saya. Ketika di lingkungan sekolahpun Venus jarang bermain dengan saya, dia termasuk anak yang aktif secara fisik sehingga dia bermain dengan teman-teman yang juga punya kelebihan tenaga seperti dirinya. Saya tidak termasuk karena saya bukan penggila aktifitas fisik, saya lebih memilih menghabiskan waktu istirahat saya dengan duduk di bawah pohon Filicium. Kami berpisah sewaktu menginjak SMP karena sekolah kami berbeda. Sejak saat itu kami jarang bertemu, kini dia sudah memiliki dua anak lelaki dan menjadi tetangga dekat rumah. Namun karena lamanya waktu memisahkan kami maka saya pribadi selalu kikuk untuk berbicara panjang dengannya. Kami hanya saling sapa saja ketika bertemu, lebih tidak. 
           Memasuki Sekolah Menengah Pertama, teman saya juga cenderung sekutu saja. Iya sekutu persebangkuan setiap catur wulan (dulu sistem sekolah bukan semester tapi catur wulan), ketika pindah catur wulan jelas beda teman sebangkunya. Pada akhirnya teman waktu SMP hanyalah teman sebangku yang akan berubah-rubah setiap perpindahan catur wulan. Dalam menjadi sekutu sebangku, saya hanya mengenal teman saya sebatas di lingkungan kelas saja dan paling dalam saya hanya tahu siapa gebetannya. Rumahnya dimana, anaknya bapak ibu siapa, yang mana kakak atau adiknya, di rumah dia berlaku seperti apa, saya tidak tahu. Mengapa tidak bermain bersama setelah pulang sekolah supaya lebih akrab?? karena satu dan lain hal, salah satunya adalah keterbatasan uang saku, sungguh saya tidak bisa mampir ke rumah teman sebangku itu walalupun ingin. Setidaknya untuk menjangkau rumah teman sebangku itu diperlukan satu kali ongkos angkot. Dan saya tidak punya kelebihan uang saku, uang saku saya selalu pas untuk ongkos pulang dan pergi saja. Oh iya sebagai sekutu teman naik angkot selepas bubaran sekolah saya juga punya waktu itu. Tolong jangan tanyakan smartphone ataupun medsos, tidak ada jaman itu. HP yang pertama kali saya pegang adalah Nokia 3315 (adik upgrade dari 3310), pulsa masih mahal sehingga tidak mungkin membuang sms percuma dengan hanya say hello. Hubungan saya dengan sekutu-sekutu itu kandas dan hanya meninggalkan memori ketika saya melanjutkan ke jenjang SMA. Sekolah kami benar-benar berbeda.
           Di masa SMA, saya memiliki teman juga. Hubungan saya lebih baik dengan sesama spesies saya di kala itu. Panggil saja dia Mars. Mars menemani saya sejak dari kelas satu hingga kelas tiga. 36 purnama dia telah menjadi sekutu sebangku, sekutu sekelas, sekutu pulang pergi dan bolehlah disebut sahabat. Rumah Mars yang dekat dengan sekolah dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki tanpa lelah membuat saya yang bernasib masih sama (uang saku pas-pasan) bisa mampir bermain ke rumahnya sepulang sekolah. Sehingga saya mengenal ibu, bapak dan adiknya. Lebih dari saya tahu siapa gebetannya, bahkan setiap kali dia menaksir cowok siapapun itu saya selalu tahu. Karena persekutuan kami sudah menginjak ke taraf curhatan. Apa yang dia lakukan di waktu senggangpun saya tahu, karena telepon rumah kami selalu sahut menyahut begitu ada berita baru mengenai diri kami. Bagaimana kelanjutannya setelah 36 purnama? iya sama seperti sebelum-sebelumnya. Waktu ditambah dengan nasib merenggut kami. Hubungan kami berjarak karena berbeda kampus. Telpon yang menghantarkan suaranya sudah tidak pernah berdering karena perbedaan aktivitas. Pertemuan dan perpisahan selalu beriringan dan tiada berjarak. Dan sekarang kami hanya dipertemukan lewat medsos. Dari dinding medsosnya, saya tahu dia sudah memiliki sahabat sendiri.
           Bangku kuliah mendidik saya menjadi individu bukan sosial lagi. Tidak ada sahabat disana melainkan sekumpulan sekutu atau rekan saja. Kami hanya saling membutuhkan jika saling menguntungkan selebihnya tidak. Itu menurut saya di tahun pertama saya disana. Ditahun selanjutnya saya memiliki teman lagi seperti Mars, panggil dia Bumi. Sebenarnya bukan kali pertama saya mengenal Bumi. Dia adalah teman sekelas ketika saya SMA kelas 1 dan kelas 3. Namun karena dia memiliki geng sendiri, maka kami tidak pernah dekat. Hanya sebatas teman sekelas yang say hello dan bertanya tentang tugas dan mata pelajaran. Bumi seperti Mars, dia bisa dikatakan sahabat, bukan hanya sekutu saja. Cerita sedih dan senang semua kami lalui bersama. Saat sedang santai mengopi bersama di kantin kampus sampai harus berlama-lama menekuri setiap lembar buku di pojok perpustakaan demi tugas telah kami lakukan bersama. Urusan gebetan adalah curhatan kami di waktu senggang, curhatan perihal tetek bengek masalah rumah adalah cemilan kami di kala lelah. Ibarat tanah lapang begitulah kami, tiada sekat yang bisa menyembunyikan sesuatu bernama rahasia. Walaupun ada suatu hal yang entah bagaimana bisa membuat saya merasa tak memiliki sahabat (hal ini bisa saya ceritakan lain waktu). Sampai suatu ketika nasib dan waktu memisahkan kami kembali. Kami terpisah karena berbeda jobsite, saya di Gresik dan Bumi di Mojokerto. Bagaimana sekarang? walaupun kami saling memiliki contact Whatsapp tapi kami tak pernah saling menyapa lagi. Entah mengapa, mungkin kikuk, mungkin kaku, mungkin lupa dan mungkin-mungkin yang lain.
           Lalu apa yang bisa saya ambil dari semua itu? bukan, saya tidak pernah menyalahkan waktu dan nasib walaupun keduanya seolah-olah merenggut apa yang pernah saya sebut sebagai teman atau sahabat. Menurut saya pribadi, sahabat itu tidaklah ada. Mungkin ada tapi hanya bagi sekumpulan orang yang beruntung. Bagi saya yang ada bukanlah sahabat melainkan rekan persekutuan sementara dimana ada simbiosis mutualisme disana. Jika artian sahabat adalah orang yang selalu menemani kita baik suka maupun duka, maka sepantasnya saya menyematkan julukan sahabat kepada kedua orang tua dan saudara kandung saya. Juga kepada pasangan saya (suami) kelak, karena merekalah yang benar-benar akan menghabiskan waktunya bersama saya, menemani saya apapun keadaan saya. Dan lagi-lagi nanti waktu jua yang akan memisahkan dengan perantara maut. 

3 Maret 2017
#KF3Days
#Day1
Kampus Fiksi
IkaVihara
Writing Challenge

 

Corat Coret Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review