Sunday, 5 March 2017

Cita-Cita Sederhana

Diposkan oleh corat coret di 20:29:00 0 komentar

Hidup akan hidup jika masih bertujuan
Jika hidup sudah hilang haluan
Maka sederhanakan dengan kembali pada
tujuan hakiki manusia diciptakan

           Cita-cita, seingat saya dulu saya ingin menjadi power rangers. Power rangers pink. Aaahh namanya juga anak-anak, ngusap ingus saja belum bisa hahahaha. Bertambah besar bertambah mengerti bahwa yang namanya power rangers itu hanya fiktif belaka. Maka bergantilah cita-cita, ingin menjadi penyiar radio. Kian hari kian buram saja cita-cita seiring berjalannya waktu dan seiring garis-garis takdir yang menggurat. Baiklah sampai saat saya menulis ini, saya sudah berkompromi dengan nasib. Bahwa yang saya punya sekarang dengan peralatan skill yang saya sandang dan pemahaman pikiran yang mendalam maka saya bercita-cita menjadi diri saya sendiri. Saya adalah seorang perempuan dimana pada hakikatnya wanita diciptakan untuk menemani lelaki yang menjadi suami nantinya. Maka saya bercita-cita menjadi teman yang baik bagi suami nanti. Jangan meremehkan cita-cita sederhana nan mulia ini. Ini tugas yang berat yang diemban seorang hawa sedari ia diciptakan. Sebagai teman hidup bagi suami, wanita harus lebih cerdas dan bijaksana dan ekstra sabar level maksimal daripada suami itu sendiri.
           Cita-cita saya yang terlalu biasa dan amat biasa dan berkesan nggak berkelas ini membuat saya dari sekarang belajar meraihnya. Mulai dari banyak membaca buku, buku apa saja saya baca. Buku adalah gudang ilmu dari sana segala macam ilmu bisa ditimba. Saya harus memiliki banyak pengetahuan karena sebagai teman suami, nantinya saya adalah guru privat bagi anak-anak saya. Yang mana sumber ilmu terdekat bagi anak adalah ibunya. Wawasan yang saya dapat bisa nantinya saya pakai sebagai bahan sharing dengan anak maupun suami.
           Hal lain lagi adalah saya belajar memasak, yaaah saya mulai praktek bikin masakan dan kue rumahan. Sebagai teman hidup yang baik, saya juga harus lihai memanjakan perut. Bisa memasak yang nyata-nyata adalah ilmu katon juga harus diimbangi dengan pengetahuan nilai gizi maka peran membaca buku masih tetap diperlukan juga. Ini penting supaya kesehatan suami dan anak terperhatikan.
           Teman hidup yang baik juga harus ahli dalam pekerjaan receh seperti memasang kancing yang lepas dan menjahit celana yang sobek, saya yang asing dengan benang dan jarum harus mulai berkenalan dengan mereka beserta dengan pola tusuk jahitan. Saya sudah memulainya dengan mengikuti tutorial dari youtube dan hasil tanya pada ibu. Dari sini juga pada akhirnya saya bisa DIY bros dari pita dan flanel.
           Teman hidup yang baik harus bisa membuat suami bangga dan nyaman. Salah satunya adalah tetap terlihat cantik & sehat. Maka sedari sekarang saya belajar memilih dan memilah makanan. Kurang-kurangin junk food dan minuman makanan manis serta lebih memilih sayur, buah serta protein dan mengurangi karbohidrat. Ditambah rajin work.
           Cita-cita saya sangatlah sederhana namun untuk mencapainya sungguh harus benar-benar belajar. Itu barulah yang dasar yang lain-lain belum sempat belajar lagi masang tabung LPG, belajar bercocok tanam sederhana seperti nanam cabe, seledri, empon-empon (kunyit, jahe, kencur dkk), dan belajar ekstra sabar dan anti mengeluh..................

#KF3DAYS #WritingChallenge
#Day3
@kampusfiksi
@ikaVihara

Saturday, 4 March 2017

Jika Waktu Kembali Lagi

Diposkan oleh corat coret di 21:07:00 0 komentar

Waktu tak akan berputar ulang
dia akan terus berjalan
tak akan menunggu
tak akan pula terkejar

           Jika ada mesin waktu seperti milik Doraemon. Saya rasa hanya satu hal yang ingin saya lakukan. Hal itu tidak akan merubah suatu keadaan karena menilik hakikatnya jika suatu kejadian bisa dirubah di masa lalu maka berubahlah pula masa depan. Aaah saya tak ingin menjadi manusia kuwalat merubah takdir. Saya sudah banyak dosa, tak ingin menumpuk lagi. Bisa-bisa kejadian Kera Sakti yang dikurung di gunung dan harus menunggu seorang biksu untuk membebaskan menimpa saya. Saya tak mau semerana itu sungguh.
           Kemungkinan terbesar jika ada keajaiban mesin waktu yang bisa membawa saya ke dalam masa lampau, saya hanya ingin menjadi anak perempuan terbaik dan termanis untuk seorang lelaki baik, yang dalam garis takdir saya dia adalah ayah. Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu saya bersamanya jika saya tahu sekarang bahwa takdir kami hanya sebentar. Hanya sekedip mata. Dalam kebersamaan sekelebat bayangan itu saya ingin selalu memijitnya ketika ia lelah pulang bekerja. Tidak membebaninya dengan meminta sesuatu yang Ia tak memiliki kesanggupan memberikannya. Selalu mempersembahkan nilai akademik yang bakal membuatnya berdecak kagum sambil berbangga diri sembari mengatakan "siapa dulu bapaknya". Sungguh pasti ia akan menilai bahwa saya anak manis. Tak akan saya bantah apapun yang keluar dari bibirnya, pasti ini akan menyenangkannya dan menganggap saya anak patuh. Walaupun dinding dingin dirumah juga tahu, ia akan tetap menganggap saya anak yang manis dan patuh meski selalu saja membantah. Dari mulut ke mulut saya mendengar itu ketika ayah sudah pergi kedalam rengkuhan Illahi.
           Kematian adalah takdir pasti. Saya tidak mungkin menangguhkan sebuah kematian. Sehingga apa yang saya inginkan hanyalah memberinya sebuah kenangan bahwa Ia adalah seorang ayah yang dalam masa hidupnya pernah memiliki anak perempuan terbaik dan termanis.

Note : jangan pernah sekalipun kamu mengecewakan orang tua apalagi urusannya hanya receh, sekali mereka tiada sungguh hanya penyesalan menggunung timbul tenggelam dalam hati.

#KF3DAYS
#Day2
#writing challenge
@kampusfiksi
@ikaVihara

Friday, 3 March 2017

Pernah menjadi Sahabat

Diposkan oleh corat coret di 11:52:00 1 komentar
Manusia adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri
mereka memerlukan teman, teman untuk berbagi
walaupun bukan sahabat, setidaknya ada sekutu 

           Sahabat dan teman mana yang lebih intim? saya rasa sahabat lebih intim karena sahabat bisa menjadi sinonim dari teman dekat. Menurut cerita orang lain, sahabat adalah teman terdekat yang menemani lika-liku kehidupan kita baik suka maupun duka. Dan menurut paham saya, jarang ada orang yang memiliki sahabat sejak dari kecil sampai dewasa masih menjalin komunikasi intens seperti dulu. Kalaupun ada sungguhlah sangat beruntung orang semacam itu. 
           Saya pribadi pernah memiliki teman sewaktu kecil, panggil saja Venus. Venus menemani perjalanan saya dari semenjak saya menginjakkan kaki di halaman pelataran Sekolah Dasar hingga terus tumbuh bersama sampai kelas enam. Dia memang anak tetangga tapi tetangga jauh, rumah kami sudah beda RT dan RW dipisahkan dengan jalan raya besar, dia di utara jalan sedangkan saya di selatan jalan. Saya bukan termasuk anak pemberani kala itu, sehingga setiap pagi Venus selalu menghampiri saya ketika hendak berangkat sekolah. Kami bersama-sama berjalan kaki. Begitupun ketika bubaran sekolah, dia juga selalu mengawal saya sampai di rumah baru kemudian dia pulang sendirian menuju rumahnya. Selalu begitu sampai tahun terakhir di SD. Pertemanan kami hanya sebatas sekutu pulang dan pergi. Kami tidak pernah bermain bersama ketika sekolah selesai. Alasannya karena jalan raya besar itu memisahkan rumah kami. Orang tua kami tidak mengijinkan anaknya bermain menyebrangi jalan raya. Dia memiliki teman bermain sendiri di lingkungan rumahnya begitupun saya. Ketika di lingkungan sekolahpun Venus jarang bermain dengan saya, dia termasuk anak yang aktif secara fisik sehingga dia bermain dengan teman-teman yang juga punya kelebihan tenaga seperti dirinya. Saya tidak termasuk karena saya bukan penggila aktifitas fisik, saya lebih memilih menghabiskan waktu istirahat saya dengan duduk di bawah pohon Filicium. Kami berpisah sewaktu menginjak SMP karena sekolah kami berbeda. Sejak saat itu kami jarang bertemu, kini dia sudah memiliki dua anak lelaki dan menjadi tetangga dekat rumah. Namun karena lamanya waktu memisahkan kami maka saya pribadi selalu kikuk untuk berbicara panjang dengannya. Kami hanya saling sapa saja ketika bertemu, lebih tidak. 
           Memasuki Sekolah Menengah Pertama, teman saya juga cenderung sekutu saja. Iya sekutu persebangkuan setiap catur wulan (dulu sistem sekolah bukan semester tapi catur wulan), ketika pindah catur wulan jelas beda teman sebangkunya. Pada akhirnya teman waktu SMP hanyalah teman sebangku yang akan berubah-rubah setiap perpindahan catur wulan. Dalam menjadi sekutu sebangku, saya hanya mengenal teman saya sebatas di lingkungan kelas saja dan paling dalam saya hanya tahu siapa gebetannya. Rumahnya dimana, anaknya bapak ibu siapa, yang mana kakak atau adiknya, di rumah dia berlaku seperti apa, saya tidak tahu. Mengapa tidak bermain bersama setelah pulang sekolah supaya lebih akrab?? karena satu dan lain hal, salah satunya adalah keterbatasan uang saku, sungguh saya tidak bisa mampir ke rumah teman sebangku itu walalupun ingin. Setidaknya untuk menjangkau rumah teman sebangku itu diperlukan satu kali ongkos angkot. Dan saya tidak punya kelebihan uang saku, uang saku saya selalu pas untuk ongkos pulang dan pergi saja. Oh iya sebagai sekutu teman naik angkot selepas bubaran sekolah saya juga punya waktu itu. Tolong jangan tanyakan smartphone ataupun medsos, tidak ada jaman itu. HP yang pertama kali saya pegang adalah Nokia 3315 (adik upgrade dari 3310), pulsa masih mahal sehingga tidak mungkin membuang sms percuma dengan hanya say hello. Hubungan saya dengan sekutu-sekutu itu kandas dan hanya meninggalkan memori ketika saya melanjutkan ke jenjang SMA. Sekolah kami benar-benar berbeda.
           Di masa SMA, saya memiliki teman juga. Hubungan saya lebih baik dengan sesama spesies saya di kala itu. Panggil saja dia Mars. Mars menemani saya sejak dari kelas satu hingga kelas tiga. 36 purnama dia telah menjadi sekutu sebangku, sekutu sekelas, sekutu pulang pergi dan bolehlah disebut sahabat. Rumah Mars yang dekat dengan sekolah dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki tanpa lelah membuat saya yang bernasib masih sama (uang saku pas-pasan) bisa mampir bermain ke rumahnya sepulang sekolah. Sehingga saya mengenal ibu, bapak dan adiknya. Lebih dari saya tahu siapa gebetannya, bahkan setiap kali dia menaksir cowok siapapun itu saya selalu tahu. Karena persekutuan kami sudah menginjak ke taraf curhatan. Apa yang dia lakukan di waktu senggangpun saya tahu, karena telepon rumah kami selalu sahut menyahut begitu ada berita baru mengenai diri kami. Bagaimana kelanjutannya setelah 36 purnama? iya sama seperti sebelum-sebelumnya. Waktu ditambah dengan nasib merenggut kami. Hubungan kami berjarak karena berbeda kampus. Telpon yang menghantarkan suaranya sudah tidak pernah berdering karena perbedaan aktivitas. Pertemuan dan perpisahan selalu beriringan dan tiada berjarak. Dan sekarang kami hanya dipertemukan lewat medsos. Dari dinding medsosnya, saya tahu dia sudah memiliki sahabat sendiri.
           Bangku kuliah mendidik saya menjadi individu bukan sosial lagi. Tidak ada sahabat disana melainkan sekumpulan sekutu atau rekan saja. Kami hanya saling membutuhkan jika saling menguntungkan selebihnya tidak. Itu menurut saya di tahun pertama saya disana. Ditahun selanjutnya saya memiliki teman lagi seperti Mars, panggil dia Bumi. Sebenarnya bukan kali pertama saya mengenal Bumi. Dia adalah teman sekelas ketika saya SMA kelas 1 dan kelas 3. Namun karena dia memiliki geng sendiri, maka kami tidak pernah dekat. Hanya sebatas teman sekelas yang say hello dan bertanya tentang tugas dan mata pelajaran. Bumi seperti Mars, dia bisa dikatakan sahabat, bukan hanya sekutu saja. Cerita sedih dan senang semua kami lalui bersama. Saat sedang santai mengopi bersama di kantin kampus sampai harus berlama-lama menekuri setiap lembar buku di pojok perpustakaan demi tugas telah kami lakukan bersama. Urusan gebetan adalah curhatan kami di waktu senggang, curhatan perihal tetek bengek masalah rumah adalah cemilan kami di kala lelah. Ibarat tanah lapang begitulah kami, tiada sekat yang bisa menyembunyikan sesuatu bernama rahasia. Walaupun ada suatu hal yang entah bagaimana bisa membuat saya merasa tak memiliki sahabat (hal ini bisa saya ceritakan lain waktu). Sampai suatu ketika nasib dan waktu memisahkan kami kembali. Kami terpisah karena berbeda jobsite, saya di Gresik dan Bumi di Mojokerto. Bagaimana sekarang? walaupun kami saling memiliki contact Whatsapp tapi kami tak pernah saling menyapa lagi. Entah mengapa, mungkin kikuk, mungkin kaku, mungkin lupa dan mungkin-mungkin yang lain.
           Lalu apa yang bisa saya ambil dari semua itu? bukan, saya tidak pernah menyalahkan waktu dan nasib walaupun keduanya seolah-olah merenggut apa yang pernah saya sebut sebagai teman atau sahabat. Menurut saya pribadi, sahabat itu tidaklah ada. Mungkin ada tapi hanya bagi sekumpulan orang yang beruntung. Bagi saya yang ada bukanlah sahabat melainkan rekan persekutuan sementara dimana ada simbiosis mutualisme disana. Jika artian sahabat adalah orang yang selalu menemani kita baik suka maupun duka, maka sepantasnya saya menyematkan julukan sahabat kepada kedua orang tua dan saudara kandung saya. Juga kepada pasangan saya (suami) kelak, karena merekalah yang benar-benar akan menghabiskan waktunya bersama saya, menemani saya apapun keadaan saya. Dan lagi-lagi nanti waktu jua yang akan memisahkan dengan perantara maut. 

3 Maret 2017
#KF3Days
#Day1
Kampus Fiksi
IkaVihara
Writing Challenge

Thursday, 2 February 2017

Gaji Pertamaku dan Sejumput Kenangan bersama Setumpuk Penyesalan

Diposkan oleh corat coret di 21:16:00 0 komentar
Rintikan air hujan masih terdengar syahdu di luar sana, hembusan semilir angin mulai merayapi kulit. Dingin. Aku mengelus tanganku perlahan. Selalu seperti ini jika aku merasa sendu, menatap tarian air dan gemerincing melodinya dari balik jendela kamarku. Lalu sekelebat kenangan-kenangan itu datang silih berganti tanpa pamit, senyumannya – tawanya – marahnya – cintanya – ketulusannya – dedikasinya – semua kebaikan dan semua hal kecil yang bisa aku ingat datang berupa-rupa. ‘’ayah….’’ Desahku. Kelibatan itu terus menggelar gulungan-gulungan kenangannya seperti film yang diputar diingatanku walau hanya sepotong-potong.
‘’Kim, setelah ini kamu lulus mau kerja dimana?’’ tanya ayahku sembari membaca Koran edisi pagi itu
‘’ wah…kalau aku sih Yah, sudah akan dapat kerjaan sebelum lulus’’ sahutku cengar-cengir sambil melahap roti yang memang tinggal satu gigitan
‘’aamiin’’
Sepotong percakapan anak dan ayah di pagi itu rupanya didengar malaikat dan disampaikan kepadaNya. Sehingga hari ini tepat hari ke 45 wafatnya Ayah aku sudah menggenggam gaji pertamaku. Air mataku mulai menggenang dipelupuk mata dan berderailah tangisku karena semua perasaan pedih yang merengkuh relung hatiku. ‘’ayah kenapa harus ayah yang pergi dulu?’’ batinku yang terus saja mendobrak-dobrak pintu kenyataan berharap semua ini hanya mimpi. “bahkan aku tak sempat membelikan Ayah sarung dan songkok untuk ke masjid, kenapa Ayah pergi?”
“kenapa Ayah tak mengajakku?”
“ kenapa bukan aku saja ya Allah? Kenapa harus ayah? Dina, Nabil dan Ibu lebih membutuhkan ayah”
“kenapa…….? Kena….pa…?” terus-menerus batinku bertanya-tanya dalam bisu dan berderai-derailah air mata ini berjatuhan.
Bertumpuk-tumpuk penyesalan menghinggapi pikiran, begitu banyak waktuku terbuang percuma dengan marahku kepada Ayah saat aku dilarang-larang melakukan ini dan itu. Jika memang seperti ini seharusnya aku bisa menghargai waktu bersama Ayah. Aku akan memijitnya ketika Ia lelah setelah seharian bekerja. Aku tak akan membantah perintahnya dan membuatnya kesal terhadapku. Dan aku akan menjadi anak gadisnya yang paling penurut. Pengandaian-pengandaian itu terus bergema-gema dibatin.

Dan sore itu kuhabiskan dengan linangan air mata tiada henti menyesalkan waktu yang sedemikiannya singkatnya. Jodoh kami sebagai anak dan ayah terputus disaat aku akan memberikannya hadiah dari gaji pertamaku.

Suka Nodong Traktiran Teman yang Lagi Ulang Tahun? Ayo, Pikir Lagi Deh!

Diposkan oleh corat coret di 13:57:00 0 komentar
           Dari 365 hari di kalender, ada satu hari istimewa bagi masing-masing pribadi, yaitu hari kita dilahirkan di dunia. Yup, moment ini biasanya kita sebut dengan ulang tahun. Seharusnya sih ya, ulang tahun itu adalah moment bahagia bagi seseorang. Pasalnya, moment ini seperti euforia untuk diri sendiri karena berhasil dilahirkan dan menjadi manusia. Namun, euforia ini juga bisa menjadi scary moment, lho! Kok bisa?
           Ingat dong, apa tradisi kita di saat ada yang ulang tahun? Iya, kita cenderung suka nodong bin ngerampok teman yang sedang merayakan hari jadinya ini. "Wah selamat ulang tahun ya, kapan nih traktiran?", "Traktiran di mana nih kita, Bro?", "Wah, makan-makan nih!" dan kawan-kawan sekoloninya itulah. Kita yang nodong sih pikirannya cethek, yang penting bisa makan gratis. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa yang kita todong itu adalah teman yang lagi bokek?

Silahkan baca kelanjutannya pada artikel saya yang diterbitkan Hipwee ya klik disini
 
 

Corat Coret Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review